5 Hal Penting yang Perlu Diperhatikan Sebelum Pembuatan Chatbot

CEO BJTech, Diatce Harahap

Pemanfaatan teknologi chatbot sangat membantu pelaku bisnis karena mampu meningkatkan nilai bisnis itu sendiri. Saat ini penggunaan chatbot di Indonesia mulai menjadi hal yang tidak asing lagi. Chatbot bisa digunakan untuk membantu para pelaku usaha dalam melaksanakan bisnisnya. Tapi ada 5 hal penting yang perlu diperhatikan sebelum pembuatan chatbot oleh para pelaku usaha, seperti dikutip dari artikel di Techinasia:

Adopsi pemakaian chatbot di Indonesia tengah mengalami pertumbuhan yang lebih pesat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sejumlah pemain lokal, salah satunya BJTech telah mengembangkan ekosistem layanan pembuatan chatbot secara personal. Keberadaan ekosistem ini membuat pihak mana pun (terutama UKM) bisa mulai menciptakan dan mengatur bot percakapan masing-masing.

Namun sebelum perusahaanmu benar-benar memulai untuk membuat chatbot, ada baiknya kamu memperhatikan beberapa hal berikut ini agar output yang dihasilkan bisa berfungsi maksimal.

Pahami fungsi yang ingin difokuskan dengan layanan chatbot

Dalam penerapannya, fungsi chatbot bisa digolongkan dalam dua kategori penggunaan, yaitu:

  1. Layanan otomatisasi percakapan, dan
  2. Kebutuhan fungsional.

Fungsi ini perlu dipahami, agar perusahaan bisa melihat ke mana arah pengembangan yang hendak dituju lewat produk chatbot masing-masing. “Chatbot sendiri pada dasarnya difungsikan ke dalam keperluan customer service di mana teknologi ini akan mewakili aktivitas perusahaan dalam menjawab berbagai pertanyaan,” ujar Diatce G.Harahap selaku CEO BJtech.

Menurut Diatce, penerapan chatbot untuk otomatisasi percakapan adalah fungsi yang paling sering diadopsi perusahaan kecil seperti UKM dan pedagang online. Dengan teknologi ini, peluang untuk melakukan engagement bisa dilakukan secara lebih kontinu sehingga memberikan pelayanan secara lebih optimal.

Chatbot untuk otomatisasi percakapan adalah fungsi yang paling sering diadopsi perusahaan kecil seperti UKM dan pedagang online.

Untuk kebutuhan fungsional, umumnya pengembangan chatbot akan dirancang secara spesifik hingga melibatkan infrastruktur yang lebih kompleks. Ini dilakukan untuk mendukung beberapa fitur lain seperti otomatisasi pembayaran, olah data, hingga integrasi API khusus. Jadi tidak sekadar hanya mengolah struktur tanya jawab yang dilontarkan klien saja.

Diatce menekankan perlunya ada tenaga tim IT khusus guna memastikan kelancaran infrastruktur di dalam penerapan fitur chatbot yang lebih kompleks.

Pengembangan fitur yang hendak diprioritaskan dalam pembuatan chatbot

Dalam membuat chatbot, proses pengambilan keputusan awal biasanya akan lebih banyak tertuju kepada penentuan fitur mana yang hendak diprioritaskan saat masa pengembangan berjalan. Pengambilan keputusan ini umumnya melibatkan banyak kepala. Klien yang memiliki sistem birokrasi panjang (seperti kalangan korporasi) cenderung membutuhkan waktu sedikit lebih lama.

“Banyaknya kepala yang belum menjadi satu ini jadi masalah, terutama saat mau menentukan gol dari pembuatan chatbot itu sendiri,” ujar Diatce. Diatce mengungkapkan ada baiknya para pemangku kepentingan kembali ke fungsi dari layanan chatbot itu sendiri.

Ada beberapa terminologi pemanfaatan fitur yang bakal sering ditemukan dalam pembuatan chatbot, antara lain:

  • Natural Language Processing. Dengan fitur ini, platform chatbot bersangkutan dapat memberikan respons yang mirip dengan perilaku percakapan manusia sehari-hari.
  • Penyesuaian referensi pengguna (personalization). Chatbot akan mengenali apa yang disukai masing-masing pengguna berdasarkan input data yang disuka. Kemudian chatbot akan menyajikan konten sesuai dengan preferensi mereka.
  • Omni channel. Integrasi dengan berbagai macam medium untuk pengalaman dan fungsi yang lebih luas.
  • API Plugin. Fitur pemasangan API guna memperbanyak variasi fungsi yang bisa dilakukan sebuah chatbot. Seperti pembayaran, broadcast pesan, pemesanan tiket, dan sebagainya.

Platform pembuatan chatbot BJTech

Tentukan kanal yang tepat untuk distribusi

Setiap chatbot pastinya akan memerlukan medium komunikasi sebagai kanal untuk pendistribusian. Ada banyak medium untuk distribusi, namun yang paling sering digunakan adalah aplikasi mobile untuk pengiriman pesan atau chatting dan halaman web.

Menurut Diatce, mayoritas masyarakat Indonesia yang aktif menggunakan smartphone lebih cocok bagi penerapan chatbotdi aplikasi chatting. Dengan memanfaatkan kanal yang populer seperti LINE, BBM, atau WhatsApp sebagai jalur distribusi, perusahaan berpeluang untuk meraih basis pengguna yang lebih besar dibandingkan pemasangan di platform sendiri.

Contoh pemilihan kanal yang populer di Indonesia bisa banyak dilihat dari kasus pengenalan chatbot akun bisnis LINE yang belakangan ini muncul di Indonesia.

Pertimbangkan nama yang tepat

Bila kamu jeli melihat perkembangan chatbot akhir-akhir ini, kamu mungkin akan memperhatikan adanya pola penyebutan nama orang untuk beberapa produk yang telah dirilis di luar sana.

Memilih nama untuk sebuah chatbot hampir mirip dengan proses pemberian label merek atau branding terhadap sebuah produk. Namun bagi CEO BJtech, hal ini bukan berarti identitas tersebut harus terpaut dengan nama karakter orang saja.

Menurut Diatce, chatbot boleh saja menggunakan kata benda atau penamaan lainnya selama bisa menyiratkan ekspektasi dari benda yang digunakan. Nama orang cocok untuk jenis asisten personal, sedangkan nama benda seperti Google Home mewakili konsep dari rumah pintar.

“Inti penamaan sendiri sebenarnya untuk menarik ekspektasi dari para pengguna soal maunya berbicara dengan apa. Nama Bang Joni contohnya, kita pilih karena Abang adalah terminologi populer untuk orang yang biasa kita mintai tolong. Jadi bukan hanya branding saja intinya,” jelas Diatce.

Pertimbangkan momen yang pas untuk peluncuran setelah pembuatan chatbot

Terakhir, ada baiknya perusahaan atau entitas bisnis memanfaatkan momen khusus untuk memperkenalkan chatbot kepada khalayak luas. Seperti memperkenalkan chatbot pemantauan jalur tol di kala musim mudik, atau chatbot agregator makanan menjelang bulan puasa contohnya.

Pemanfaatan momentum “musiman” sebagai celah untuk memperkenalkan chatbot ini bisa jadi strategi yang jitu, diimbangi proses marketing yang tepat. “Justru di situlah peluang chatbot sebagai solusi. Dengan kecenderungan naiknya kebutuhan di musim tertentu, kehadiran chatbot diharapkan bisa membantu pelaku bisnis untuk mengantisipasi bahkan menangani lonjakan traffic di momentum tersebut,” ujar Diatce.

Sumber: https://id.techinasia.com/pertimbangan-saat-membuat-chatbot